​Ponorogo (narasijatim.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim, bersinergi dengan Pemkab Ponorogo, DPR RI, dan DPRD Jatim, menggelar “Gebyar Budaya Mataraman Wayang Kidulan” di Pasar Sumoroto, Ponorogo.
Acara ini menjadi simbol komitmen melestarikan budaya Mataraman sekaligus menghidupkan ekonomi kreatif daerah.
​Gelaran ini menampilkan dalang kondang Ki Cahyo Kuntadi yang membawakan kisah Wayang Kidulan, serta dimeriahkan oleh artis dan kesenian khas Ponorogo lainnya.
​Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari (melalui sambutan tertulis), menegaskan bahwa festival ini adalah manifestasi kolaborasi antarinstansi dalam menjaga warisan budaya. “Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Nilai-nilai luhur di dalamnya harus terus hidup lintas generasi,” ujarnya.
​Ia menambahkan, pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif adalah dua hal yang saling menguatkan. “Ketika seni dan tradisi hidup, maka ekonomi kreatif akan tumbuh,” katanya.
​Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko (Kang Giri), menyoroti dampak langsung acara budaya terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Ponorogo kini telah mencapai 6,7 persen, dan event-event budaya menjadi pemicu utamanya.
​”Lihat saja, kalau ada wayangan maka sindennya laku, dalangnya laku, bahkan tukang rias, pedagang sabun, sampai penjual camilan juga ikut laku. Semua kebagian rezeki!” ujar Kang Giri, disambut tawa penonton.
​Menurutnya, angka pertumbuhan 6,7 persen bukan sekadar data, melainkan cermin nyata dari kehidupan masyarakat yang makin bergairah. “Semua ikut hidup. Itulah Ponorogo, ekonomi rakyatnya hidup karena budayanya hidup,” tutupnya bangga.
​Sebagai informasi, Ponorogo kini tengah diusulkan menjadi kota jejaring dunia dalam bidang ekonomi kreatif oleh UNESCO, melengkapi pengakuan sebelumnya terhadap Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Acara ini dibuka dengan penyerahan gunungan wayang oleh Anggota Komisi V DPR RI, Ali Mufti. (Red)

Leave a Reply